3 Resiko Trading Cryptocurrency yang Harus Diwaspadai

Trading cryptocurrency adalah topik yang semakin populer di kalangan investor dan trader. Bukan hanya di luar negeri, orang-orang Indonesia sekarang ini sudah familiar dengan mata uang kripto. Meskipun potensi keuntungan besar terdengar begitu menggiurkan, namun jangan lupa dengan resiko trading cryptocurrency. Anda perlu mengetahuinya agar bisa membuat keputusan dengan bijak. 

Pada awal 2021 kemarin, beberapa aset kripto mengalami lonjakan harga sangat tinggi. Baik itu Ripple, Bitcoin, Tether, Ethereum dan Doge. Keuntungan yang berhasil diperoleh trader bahkan mencapai ratusan persen dari nilai investasi mereka. 

Anda tidak boleh langsung tergiur begitu saja, alangkah baiknya mengetahui beberapa resiko trading cryptocurrency yang harus membuat Anda berpikir dua kali sebelum memulai. 

Beberapa Resiko Trading Cryptocurrency yang Wajib Dipertimbangkan 

 

1. Volatilitas Harga yang Tinggi

 

Harga cryptocurrency cenderung sangat fluktuatif dipasaran, dengan perubahan nilai yang sangat signifikan dan terjadi begitu cepat. Meskipun volatilitas ini bisa memberikan peluang bagi trader untuk meraup keuntungan, disisi lain juga bisa menyebabkan kerugian.  

Koin kripto seperti Bitcoin, Ripple, Doge dan sejenisnya bisa saja mengalami kenaikan nilai sampai ratusan persen hanya dalam waktu hitungan jam. Namun di sisi lain, risiko penurunan nilainya juga bisa terjadi tanpa batas. 

Itu berarti, investor atau trader yang berhasil meraup keuntungan kemarin bisa saja mengalami kerugian hari ini akibat fluktuasi jual-beli aset kripto.

Karakteristik seperti ini jelas berbeda dengan investasi di pasar modal, seperti reksadana saham atau saham. Di Bursa Efek Indonesia, terdapat batas maksimal penurunan saham dalam sehari sebesar 7 persen. Adanya batas ini akan memicu sistem auto rejection. 

Jika penurunan harga masih berlanjut sampai beberapa hari ke depan, maka otoritas Bursa Efek Indonesia memiliki wewenang untuk menghentikan perdagangan sementara (suspensi). 

Sehingga, kerugian yang dialami oleh investor Reksadana saham atau saham bisa diminimalisir agar tidak semakin parah. 

Sebagai calon trader cryptocurrency, Anda harus selalu siap menghadapi perubahan harga yang tiba-tiba dan tidak terduga. Fluktuasi pasar cryptocurrency memberikan dua kemungkinan, yaitu keuntungan dan kerugian secara cepat. 

2. Tidak Memiliki Fundamental untuk Dianalisis 

 

Aset kripto seperti Doge, Tether, Ripple, Ethereum dan Bitcoin bukanlah mata uang seperti dolar AS atau rupiah. Meskipun mereka disebut sebagai uang atau koin, aset kripto tidak memiliki dasar fundamental seperti suku bunga acuan, faktor ekonomi suatu negara, dan data makroekonomi lainnya.

Karena tidak memiliki fundamental yang mendasarinya, aset kripto tidak bisa dianalisis seperti saham perusahaan. Aset perusahaan memiliki operasi bisnis, laporan pendapatan, dividen dan laba yang bisa dianalisis secara fundamental.

Kita ambil contoh reksadana, kita bisa meninjau portofolionya yang tercantum dalam dokumen “fund fact sheet”. Berbeda dengan aset kripto, maka sulit untuk memprediksi atau menganalisis nilai mereka dengan cara yang serupa.

3. Tidak Memiliki Badan Otoritas 

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, aset kripto muncul berkat teknologi blockchain yang memungkinkan semua transaksi tercatat secara otomatis. Karena sistem blockchain mengatur semuanya, tidak ada lagi campur tangan manusia dalam bentuk peraturan atau pembatasan perdagangan. 

Ini berarti tidak ada lembaga yang mengatur atau layanan pelanggan yang bisa membantu jika terjadi masalah dengan aset kripto mereka. Sebab, semuanya bergantung pada sistem blockchain yang sudah ada.

Hal tersebut berbeda dengan saham atau reksadana yang diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika saham bergerak secara tidak wajar atau perusahaan melanggar peraturan, maka OJK memiliki wewenang untuk memberikan peringatan atau sanksi. 

OJK juga bisa mengambil tindakan terhadap reksadana dan manajer investasi yang tidak mematuhi aturan.

Sampai sekarang ini, Bappebti Kemendag bertanggung jawab atas pengawasan aset kripto yang bisa diperdagangkan dan pedagang kripto di Indonesia. 

Bappebti sudah mengakui kurang lebih 229 jenis mata uang kripto yang bisa diperdagangkan di Indonesia. Ia juga mengawasi 13 perusahaan pedagang aset kripto yang terdaftar di bawah pengawasannya.

Demikianlah pembahasan mengenai resiko trading cryptocurrency yang perlu Anda pertimbangkan. 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *